CORAKPAPUA.COM, Jayawijaya – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Pegunungan menargetkan bulan Juli atau Agustus 2025 angka inflasi akan turun 2 persen.
Gubernur Papua Pegunungan John Tabo di Wamena mengatakan kenaikan inflasi di daerah ini salah satu penyebabnya adalah cuaca ekstrem yang menyebabkan banjir bandang di Kabupaten Jayawijaya.
“Akibat dari banjir bandang maka sayur-mayur, cabai, tomat itu rusak, akar busuk sehingga masyarakat tidak bisa panen. Akhirnya, harga sayur-mayur dipasaran tinggi,” katanya.
Menurut Gubernur Tabo, saat ini cuaca sudah mulai normal dan masyarakat mulai melakukan penanaman sayur mayur, umbi-umbian, cabai dan tomat.
“Oleh karena masyarakat sudah mulai melakukan aktivitas pertanian maka kami yakin satu atau dua bulan ke depan angka inflasi ini pasti menurun ke dua koma sekian persen atau di bawah tiga persen. Salah satu tingginya inflasi karena kenaikan harga sayur dipasaran,” ujarnya.
Dia menjelaskan dengan tingginya harga sayur mayur dipasaran Kabupaten Jayawijaya, sehingga mendatangkan sayur dari luar itu tidak bisa dilakukan karena Papua Pegunungan daerah penghasil sayu mayur atau terbaik tanpa pupuk atau pestisida
“Kita mau datangkan sayur mayur dari luar tidak bisa, palingan kangkung dari Jayapura, daerah lain tidak bisa masuk karena daerah ini pusat produksi sayur tanpa pestisida, semua sayur alamia pertumbuhannya,” katanya.
Dia menambahkan kenaikan air di Sungai Baliem karena cuaca ekstrem menyebabkan kenaikan harga sayur mayur di pasaran.
“Puji Tuhan saat ini air Sungai sudah menurun dan masyarakat telah kembali berkebun. Kami juga telah membantu masyarakat dalam kebutuhan pokok dengan menyediakan 100 ton beras, yang telah disalurkan 50 ton,” ujarnya.
Dia menuturkan bahwa rakyat tidak bisa dipaksakan bercocok tanam dalam situasi banjir seperti yang telah terjadi beberapa waktu lalu
“Orang tidak mengerti saja kondisi rakyat seperti ini, kita tidak bisa paksa rakyat dengan situasi, kondisi rakyat. Kecuali Tuhan yang melakukan mujizat, kalau manusia tidak bisa perbuat apa-apa,” katanya.
Sementara itu Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Kabupaten Jayawijaya Arther L Purmiasa mengatakan inflasi Mei 202 year-on-year atau y-on-y sebesar 5,75 persen.
“Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 11,88 persen,” ujarnya.
Selain itu terjadinya kenaikan juga pada kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,97 persen. Kelompok kesehatan sebesar 3, persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 7,95 persen, kelompok pendidikan sebesar 3,15 persen, dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,37 persen.***
















Tinggalkan Balasan